Langsung ke konten utama

Luka

Sejak saat itu hingga saat ini, luka itu masih tetap menganga. Kupikir sudah akan sembuh mengering. Selama ini terus kututup agar tak terlihat dan agar terlupakan. Ternyata aku salah. Sedikit saja terbuka, ia akan semakin perih. Perih yang tak dapat dijelaskan. Melebihi sakit yang sebenarnya. Atau mungkin aku sudah lupa bagaimana itu sakit. Yang bisa kurasakan jelas adalah sesak di dadaku. Ingin sekali berteriak kencang. Sungguh kuingin luka ini sembuh tapi aku tak tau bagaimana. Bukan tidak tau, lebih tepatnya tidak mau tau. Hanya kubiarkan saja. Biarlah, dia yang luka, dia yang harus menyembuhkannya. Bukankah begitu. Ketika perih itu semakin mengiris, tak lagi ku menangis. Akupun seperti lupa bagaimana cara menangis. Air mataku sudah tumpah berlebihan di kala itu. Aku masih menunggu siapa penyembuh luka itu. Kuharap dia segera tiba.

Kutulis luka sebagai pembuka, karena luka yang mengingatkanku padanya. Luka yang membuatkanku terpuruk dalam kesedihan. Dan luka yang memberiku semangat bangkit. Serta luka yang selalu membawaku kepadamu. -NiceWord

6 Juni 2019

Komentar